Kamis, 26 September 2013

pengertian dan macam macam drama


            Dalam karya seni yang berbasis tulisan, istilah dramaturgi dikenal secara umum. Pengertian sederhananya, dramaturgi adalah alur emosi dalam sebuah cerita. Ada yang mengistilahkan dengan naik-turunnya plot, atau naik-turunnya alur cerita, atau sesuai dengan kata dasarnya “drama – dramatik” dapat diartikan dramaturgi adalah naik turunnya sensasi dramatik dalam sebuah cerita.
          Dramaturgi adalah ajaran tentang masalah hukum, dan konvensi/persetujuan drama. Kata drama berasal dari bahasa Yunani yaitu dramoi yang berarti berbuat, berlaku, beraksi, bertindak dan sebagainya. Drama yang dapat diartikan sebagai perbuatan, tindakan. Ada yang menganggap drama sebagai lakon yang menyedihkan, mengerikan, sehingga dapat diartikan sebagai sandiwara tragedi. Adapula arti drama yaitu suatu aksi atau perbuatan (bahasa yunani). Sedangkan dramatik adalah jenis karangan yang dipertunjukkan dalan suatu tingkah laku, mimik dan perbuatan.
            Adapula tahapan-tahapan yang harus dilakukan untuk mempelajari dramaturgi yang disebut formula dramaturgi. Tahapannya sebagai berikut:
1.      Mengkhayalkan: disini untuk pertama kalinya manusia atau pengarang mengkhayalkan kisah: ada inspirasi-inspirasi, ide-ide.
2.      Menuliskan: pengarang menyusun kisah yang sama untuk kedua kalinya, pangarang menulis kisah.
3.      Memainkan: pelaku-pelaku memainkan kisah yang sama untuk ketiga kalinya (action). Disini aktor dan aktris yang bertindak dalam stage tertentu.
4.      Menyaksikan: penonton menyaksikan kisah yang sama untuk keempat kalinya.

·           Dalam arti luas, drama dapat diartikan sebagai berikut:
1.      Drama adalah kualitas komunikasi, situasi, aksi.
2.      Menurut Moulton, drama adalah: hidup yang dilukiskan dengan gerak (life presented action). Jika buku Roman menggerakkan fantasi kita, maka dalam drama kita meliat kehidupan manusia diekspresikan secara langsung di muka kita sendiri.
3.      Menurut Brander Mathews: konflik dari sifat manusiamerupakan sumber pokok drama.
4.      Menurut Ferdinand Brunetierre: drama haruslah melahirkan kehendak manusia dengan aksi.
5.      Menurut Balthazar Verhagen: drama adalah kesenian melukiskan sifat dan sikap manusia dengan gerak.
6.      Drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan aksi dihadapan penonton.

·         Drama menurut masanya dapat dibedakan dalam dua jenis yaitu drama baru dan drama lama.
1.      Drama Baru  / Drama Modern
Drama baru adalah drama yang memiliki tujuan untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat yang umumnya bertema kehidupan manusia sehari-hari.
2.      Drama Lama / Drama Klasik
Drama lama adalah drama khayalan yang umumnya menceritakan tentang kesaktian, kehidupan istana atau kerajaan, kehidupan dewa-dewi, kejadian luar biasa, dan lai sebagainya.

·         Macam-macam drama berdasarkan isi kandungan cerita:
1.      Drama komedi
Drama komedi adalah drama yang lucu dan menggelitik penuh keceriaan.
2.      Drama Tragedi
Drama tragedi adalah drama yang ceritanya sedih penuh kemalangan.
3.      Drama Tragedi Komedi
Drama tragedy komedi adalah drama yang ada sedih dan ada lucunya.
4.      Opera
Opera adalah drama yang mengandung music dan nyanyian.
5.      Lelucon / Dagelan
Lelucon adalah drama yang lakonnya selalu bertingkah pola jenaka merangsang gelak tawa penonton.
6.      Operet / Operette
Operet adalah opera yang ceritanya lebih pendek.
7.      Pantomim
Pantomim adalah drama yang ditampilkan dalam bentuk gerakan tubuh atau bahasa isyarat tanpa pembicaraan.

8.      Tablau
Tablau adalah drama yang mirip pantomim yang diikuti oleh gerak-gerik anggota tubuh dan mimik wajah pelakunya.
9.      Passie
Passie adalah drama yang mengandung unsur agama/religius.
10.  Wayang
Wayang adalah drama yang pemain dramanya adalah boneka wayang. Dan lain sebagainya.
11.  Parodi
Parodi adalah karya sastra atau seni yang dengan sengaja menirukan gaya, kata penulis, atau pencipta laindengan maksud mencari efek kejenakaan.
12.  Drama Musikal
Drama musikal adalah satu bentuk ekspresi kesenian yang dikolaborasikan antara music, laku, gerak, dan tari, yang menggambarkansuatu cerita yang dikemas dengan tata koreografi dan music yang menarik sehingga terbentuklah sebuah drama musik atau kadang dikenal dengan “musical play”. Faktor emosional dari drama-humor, cinta, amarah-dikomunikasikan lewat kata-kata, music, gerakan, dan aspek teknis dari hiburan yang digabungkan secara keseluruhan.
13.  Sandiwara
Sandiwara adalah pertunjukan lakon atau cerita yang dimainkan oleh orang).
14.  Monolog
Monolog adalah pembicaraan yang dilakukan dengan diri sendiri.
15.  Opera Sabun
                  Opera Sabun (Soap Opera) adalah sebuah episode fiksi yang sering ditayangkan sebagai sandiwara radio, poster, atau siaran televisiyang selalu ada lanjutannya (to be continued).

Sejarah Dramaturgi



Keteateran adalah nama lain dari dramaturgi. Dramaturgi ialah yang dapat kita artikan sebagai drama dlm pentas, tapi sebenarnya bukan itu saja. Dramaturgi adalah ajaran tentang masalah hukum konvensi drama. Kata drama berasal dari yunani draomay yang berarti berbuat, berlaku, bertindak, bereaksi, dan sebagainya.

Pada tahun 1945, seorang yang bernama Kenneth Duva Burke memperkenalkan yang namanya dramatisme. Seorang literature amerika dan filosof itu memperkenalkan dramatisme sebagai metode untuk memahami fungsi sosial dari bahasa dan drama sebagai pentas simbolik kata dan kehidupan sosial. Tujuannya memberikan tindakan logis untuk memahami motif tindakan manusia, atau kenapa manusia melakukan apa yang mereka lakukan. Adapun menurut Moulton, drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak (life presented action). Jika buku roman menggerakan fantasi kita, maka dalam drama kita melihat kehidupan manusia diekspresikan secara langsung di muka kita sendiri.

            Dramaturgi istilah teater yang dipopulerkan oleh Aristoteles, pada tahun 350 SM. Aristoteles seorang filosof yunani yang menciptakan poetics, hasil pemikirannya yang sampai sekarang masih dianggap sebagai buku acuan dalam dunia pentas. Dalam poetics, aristoteles menjabarkan penelitiannya tentang penampilan drama-drama berakhir tragis/tragedi ataupun kisah-kisah komedi. Untuk menghasilkan Poetics Aristoteles meneliti hampir seluruh karya penulis Yunani pada masanya. Kisah tragis merupakan obyek penelitian utamanya dan dalam  Poetics juga Aristoteles menyanjung kisah Oedipus Rex, sebagai kisah drama yang paling dapat diperhitungkan.  Meskipun Aristoteles mengatakan bahwa drama merupakan bagian dari puisi, ia bekerja secara keseluruhan dalam menganalisa drama. Bukan hanya dari naskah saja, tapi juga menganalisa hubungan antara karakter dan akting, dialog, plot dan cerita. Dia memberikan contoh-contoh plot yang baik dan meneliti reaksi drama terhadap penonton. . Nilai-nilai yang dikemukakan oleh Aristoteles dalam maha karyanya ini kemudian dikenal dengan “aristotelian drama” atau drama ala aristoteles, dimana deus ex machina adalah suatu kelemahan dan dimana sebuah akting harus tersusun secara efisien.  Adapun kunci drama, yaitu anagnorisis, dan katharsis. Dan sampai sekarang ini Aristotelian drama terlihat aplikasinya pada tayangan-tayangan tv, buku-buku panduan perfilman yang bergantung pada pemikiran yang dikemukakan oleh aristoteles.

             Aristoteles dapat mengungkapkan dramaturgi dalam artian seni. Dan Goffman mendalami dramaturgi dari segi sosiologi. Seperti yang kita ketahui, Goffman memperkenalkan dramaturgi pertama kali dalam kajian sosial psikologis dan sosiologi melalui bukunya “The Presentation Of Self in Everyday Life”. Bku tersebut menggali segala macam interaksi yang kita lakukan dalam pertunjukan kehidupan kita sehari-hari yang menampilkan diri kita sendiri dengan cara yang sama dengan cara seorang aktor menampilkan karakter orang lain dalam sebuah pertunjukan drama. Bila Aristoteles mengacu kepada teater, maka Goffman mengacu pada pertunjukan sosiologi.

            Tujuan dari presentasi dari diri Goffman ini adalah penerimaan penonton akan manipulasi. Bila seorang aktor berhasil, maka penonton akan melihat aktor sesuai sudut yang memang ingin diperlihatkan oleh aktor tersebut. Aktor akan semakin mudah untuk membawa penonton untuk mencapai tujuan dari pertunjukan tersebut. Ini dapat dikatakan sebagai bentuk lain dari komunikasi. Kenapa komunikasi? Karena komunikasi sebenarnya adalah alat untuk mencapai tujuan.  Bila dalam komunikasi konvensional manusia berbicara tentang bagaimana memaksimalkan indera verbal dan non-verbal untuk mencapai tujuan akhir komunikasi, agar orang lain mengikuti kemauan kita. Maka dalam dramaturgis, yang diperhitungkan adalah konsep menyeluruh bagaimana kita menghayati peran sehingga dapat memberikan feedback sesuai yang kita mau. Perlu diingat, dramatugis mempelajari konteks dari perilaku manusia dalam mencapai tujuannya dan bukan untuk mempelajari hasil dari perilakunya tersebut. Dramaturgi memahami bahwa dalam interaksi antar manusia ada “kesepakatan” perilaku yang disetujui yang dapat mengantarkan kepada tujuan akhir dari maksud interaksi sosial tersebut. Bermain peran merupakan salah satu alat yang dapat mengacu kepada tercapainya kesepakatan tersebut. Bukti nyata bahwa terjadi permainan peran dalam kehidupan manusia dapat dilihat pada masyarakat kita sendiri.

             Teori dramaturgi menjelaskan bahwa identitas manusia adalah tidak stabil dan merupakan setiap identitas tersebut merupakan bagian kejiwaan psikologi yang mandiri. Identitas manusia bisa saja berubah-ubah tergantung dari interaksi dengan orang lain. Disinilah dramaturgis masuk, bagaimana kita menguasai interaksi tersebut. Dalam dramaturgis, interaksi sosial dimaknai sama dengan pertunjukan teater. Manusia adalah aktor yang berusaha untuk menggabungkan karakteristik personal dan tujuan kepada orang lain melalui “pertunjukan dramanya sendiri”. Dalam mencapai tujuannya tersebut, menurut konsep dramaturgis, manusia akan mengembangkan perilaku-perilaku yang mendukung perannya tersebut.  Selayaknya pertunjukan drama, seorang aktor drama kehidupan juga harus mempersiapkan kelengkapan pertunjukan. Kelengkapan ini antara lain memperhitungkan setting, kostum, penggunakan kata (dialog) dan tindakan non verbal lain, hal ini tentunya bertujuan untuk meninggalkan kesan yang baik pada lawan interaksi dan memuluskan jalan mencapai tujuan. Oleh Goffman, tindakan diatas disebut dalam istilah  “impression management”. Goffman juga melihat bahwa ada perbedaan akting yang besar saat aktor berada di atas panggung (“front stage”) dan di belakang panggung (“back stage”) drama kehidupan.  Kondisi akting di front stage adalah adanya penonton (yang melihat kita) dan kita sedang berada dalam bagian pertunjukan. Saat itu kita berusaha untuk memainkan peran kita sebaik-baiknya agar penonton memahami tujuan dari perilaku kita. Perilaku kita dibatasi oleh oleh konsep-konsep drama yang bertujuan untuk membuat drama yang berhasil (lihat unsur-unsur tersebut pada impression management diatas).  Sedangkan back stage adalah keadaan dimana kita berada di belakang panggung, dengan kondisi bahwa tidak ada penonton. Sehingga kita dapat berperilaku bebas tanpa mempedulikan plot perilaku bagaimana yang harus kita bawakan.
          
Dengan konsep dramaturgis dan permainan peran yang dilakukan oleh manusia, terciptalah suasana-suasana dan kondisi interaksi yang kemudian memberikan makna tersendiri. Munculnya pemaknaan ini sangat tergantung pada latar belakang sosial masyarakat itu sendiri. Terbentuklah kemudian masyarakat yang mampu beradaptasi dengan berbagai suasana dan corak kehidupan. Masyarakat yang tinggal dalam komunitas heterogen perkotaan, menciptakan panggung-panggung sendiri yang membuatnya bisa tampil sebagai komunitas yang bisa bertahan hidup dengan keheterogenannya. Begitu juga dengan masyarakat homogen pedesaan, menciptakan panggung-panggung sendiri melalui interaksinya, yang terkadang justru membentuk proteksi sendiri dengan komunitas lainnya. Apa yang dilakukan masyarakat melalui konsep permainan peran adalah realitas yang terjadi secara alamiah dan berkembang sesuai perubahan yang berlangsung dalam diri mereka. Permainan peran ini akan berubah-rubah sesuai kondisi dan waktu berlangsungnya. Banyak pula faktor yang berpengaruh dalam permainan peran ini, terutama aspek sosial psikologis yang melingkupinya.

Rabu, 10 Juli 2013

PETHOT PRODUCTION

Tugas dakwah Multimedia

Biografi dan Pokok-Pokok Pemikiran Ibn Bajjah dan Ibn Tuffail


BIOGRAFI DAN POKOK-POKOK PEMIKIRAN IBNU BAJJAH DAN IBNU TUFFAIL

A. IBN BAJJAH
1. Biografi
Nama lengkapnya adalah Abu Bakar ibn Yahya ibn al sha’ighal tujibi al andulsi al samqusti ibn Bajjah. Ibn bajjah dilahirkan di Saragossa, andalus pada tahun 475 H (1082 M). Ia berasal dari keluarga at-tujib karena itu beliau dikenal sebagai al-tujubi yang bekerja sebagai pedagang emas (Bajjah : Emas).
Selain sebagai filusuf, ibn bajjah dikenal sebagai penyair, komponis, bahkan sewaktu Saragossa berada di bawah kekuasaan abu baker ibn ibrahim al-shahrawi dari daulah bani murabittun ibn bajjah dipercayakan sebagai Wazir . Pada 1118 M/512 H, Saragossa telah ditakluk oleh raja Alfonso yang berasal dari Aragon dan Ibnu Bajjah berhijrah ke Seville, selatan Sepanyol. Di sana, beliau menjalankan tugas sebagai seorang doktor dan banyak menulis tentang ilmu logik.
Kemudian Ibnu Bajjah berpindah pula ke Granada, dan seterusnya ke Afrika Utara iaitu pusat Dinasti Murabithun. Tetapi cara pemikiran dan falsafahnya yang asing di kalangan masyarakat di situ menyebabkan beliau ditangkap apabila tiba di kota Syatibah, Maghribi oleh Amir Abu Ishak Ibrahim Ibn Yusuf Ibn Tasifin yang menuduhnya sebagai murtad dan pembawa bidaah. Oleh kerana Ibnu Rusyd pernah menjadi muridnya, maka Ibnu Bajjah dilepaskan
Ekoran kejadian tersebut, beliau meneruskan perjalanan ke Fez di Morocco. Di sana, beliau mendapat penghormatan yang tinggi di kalangan orang al-Murabithun dan diangkat menjadi menteri oleh Abu Bakar Yahya Ibnu Yusuf Ibnu Tasifin untuk jangka waktu yang panjang.
Kedudukan yang beliau peroleh telah menimbulkan rasa iri hati daripada pelbagai pihak. Akhirnya pada bulan Ramadan 1138 M/533 H, menurut satu riwayat, beliau meninggal dunia akibat diracuni oleh seorang doktor yang bernama Abu al-‘Ala Ibnu Zuhri yang iri hati terhadap kecerdasan dan penguasaan ilmunya . Beliau dimakamkan di samping makam Ibnu ‘Arabi di Fez.

2. Karyanya
Ibnu Bajjah banyak menghasilkan karya dalam berbagai bidang. Karya asal Ibn Bajjah ditulis dalam bahasa Arab dan diterjemahkan ke dalam bahasa Hebrew dan Latin. Manuskrip asal dan terjemahannya tersimpan di perpustakaan Bodlein, Perpustakaan Berlin dan Perpustakaan Escurial (Sepanyol).
Antara karyanya yang terpenting ialah :
a.     Risalah al-Wida’ yang menceritakan tentang ketuhanan, kewujudan manusia, alam dan huraian mengenai bidang perubatan. Buku tersebut dipercayai masih tersimpan di perpustakaan Bodlein.

b.     Risalah Tadbir al-Mutawahhid pula mengandungi pandangan beliau tentang bidang politik dan falsafah. Ia lebih menekankan kehidupan individu dalam masyarakat yang disebut Mutawahhid. Risalah Tadbir al-Mutawahhid ini diterjemahkan ke dalam bahasa Sepanyol setelah wafatnya Ibnu Bajjah.

c.      Risalah al-Ittisal al-‘Aql Bi al-Insan mengandungi tentang perhubungan akal dengan manusia serta huraian mengenainya.

d.     Kitab an-Nafs menerangkan persoalan yang berkait tentang jiwa manusia dengan Tuhan dan pencapaian manusia yang tertinggi daripada kewujudan manusia iaitu kebahagiaan. Persoalan ini banyak dipengaruhi oleh gagasan pemikiran falsafah Yunani dan Ibnu Bajjah banyak membuat ulasan terhadap karya dan hasil tulisan Aristotle, Galenos, al-Farabi dan al-Razi.


3. Filsafatnya
Adapu beberapa filsafatnya yg di buat oleh Ibn Bajjah, yaitu:
a.      Epistimologi
Sebagai tokoh filsafat islam di dunia Barat, ibn bajjah tidak lepas dari pengaruh saudara-saudaranya (filusuf islam di dunia timur) terutama pemikiran al farabi dan ibn sina. Dalam bukunya yang terkenal Tdbir Al Mutawahhid, beliau mengemukakan teori al ittishal, yaitu bahwa manusia mampu berhubungan dan meleburkan diri dengan akal fa'al atas bantuan ilmudan pertumbuhan kekuatan insaniah .
Berkaitan dengan teori ittishal tersebut, ibn bajjah juga juga mengajukan satu bentuk Epistimologiyang berbeda dengan corak yang dikemukakan oleh Al Ghazali di Dunia Islam Timur. Kalau Al Ghazali berpendapat bahwa Ilham adalah sumber pengetahuan yang lebih penting dan lebih dipercaya, maka ibn bajjah mengkritik pendapat tersebut, dan menetapkan bahwa sesungguhnya perseorangan mampu pada puncak pengetahuan dan melebur Akal Fa'al, bila ia telahbersih dari kerendahan dan keburukan masyarakat. Oleh karenanya seseorang sebisa mungkin harus dapat mengasingkan pemikiran, dan jiwa masyarakat yang didasari atas pemenuhan hawa nafsu.

b. Metafisika
Adapun pendapat ibn bajjah mengenai Metafisika, boleh dikatakan hampir sama dengan Al Farabi. Menurut ibn bajjah bahwa segala yang maujud terbagi menjadi Dua :
Bergerak dan yang Tidak Bergerak. Yang bergerak itu adalah Materi yang sifatnya terbatas. Dan gerakan yang terbatas tidak mungkin dari zatnya sendiri. Tatapi sebab gerakan berasal dari kekuatan yang tidak terbatas (wujud) yaitu Akal. Akal memberi gerak kepada jisim.

c. Moral
Tujuan Manusia hidup di dunia ini, kata ibn bajjah, adalah untuk memperoleh kebahagiaan. Untuk itu, diperlukan usaha yang bersumber pada kemauan bebas dan pertimbangan Akal dan jauh dari nafsu Hewani. Lebih jauh ibn bajjah mengelompokkan perbuatan manusia kepada Perbuatan Hewani dan Perbuatan Manusiawi. Watak sejati manusia pada hakikatnya bersifat Intelektual, yang merupakan karakteristik semua bentuk spiritual. Dan hanya “manusia spiritual” inilah yang benar-benar dapat menenyal kebahagiaan. Ibn bajjah menyatakan bahwa kemajuan Intelektual bukanlah semata-mata atas usaha manusia, tetapi disempurnakan oleh Tuhan dengan memasukkan cahaya ke dalam Hati. Pemikiran ibn bajjah tersebut, menurut Al Hanafi nampaknya telah mempengaruhi Immanuel Kant, meskipun Knt telah menambah pemikiran-pemikiran baru yang menyebabkan ia lebih maju dari ibn bajjah .

d. Politik
Dari pengertian Mutawahhid, kadang-kadang orang mengira bahwa ibn bajjah menginginkan seseorang menjauhkan diri dari masyarakat. Tetapi sebenarnya ibn bajjah bermaksud bahwa seorang mutawahhid harus senantiasa berhubungan dengan masyarakat. Maksudnya, hendaklah seseorang mampu menguasai diri dan sanggup mengendalikan hawa nafsu, tidak terseret ke dalam arus perbuatan rendah masyarakat. Dengan kata lain, ia harus berpusat pada dirinya dan merasa selalu bahwa dirinya menjadi contoh ikutan orang, bukan malah tenggelam di dalam arus masyarakat . Tetapi jika masyarakat tidak baik maka seseorang harus menyepi dan menyendiri . Ibn bajjah menyadari bahwa warga memiliki sikap dan bertindak mulia jumlahnya tidaklah banyak. Menurut ibn bajjah orang yang menpunyai sikap mulia ciri-cirinya ialah :
1. Selalu menjaga kesehatan. Untuk itu mereka memerlukan sedikit pengetahuan tentang kesehatan agar dapat merawat diri.
2. Sederhana dalam memenuhi kebutuhan hidup yang menyangkut sandang, pangan, dan tempat tinggal, karena kebutuhan yang demikian bukan tujuan utama bagi kehidupan.
3. Bergaul dengan orang yang berilmudan menjauhi orang-orang yang mementingkan kehidupan duniawi.


B. IBNU THUFFAIL

1. Biografinya
Ibnu Thuffail mempunai nama asli yang bernama Abu Bakr Muhammad bin Abdul Malik bin Muhammad bin Muhammad bin Tufail, Beliau lahir pada dekade pertama abad ke-6 H/ke-12 M di Guadix, propinsi Granada, ia termasuk keluarga dari suku Arab Qais. Setelah beranjak dewasa, Ibnu Tufail berguru kepada Ibnu Bajjah (1100-1138 M), seorang ilmuwan besar yang memiliki banyak keahlian. Berkat bimbingan sang guru yang multitalenta itu, Ibnu Tufail pun menjelma menjadi seorang ilmuwan besar.Pada mulanya ia adalah seorang yang ahli dalam bidang kedokteran, dan menjadi terkenal dibidangnya itu.
Keahlianya dalam bidangnya telah dipraktekkanya di Granada.Kemudian ketenarnya sebagai dokter itu membawa namanya lebih dikenal di dalam pemerintahan, sehinggan dia diambil oleh gubernur Granada menjadi sekretarisnya.Pada tahun 549 H ia dipindahkan menjadi sekretaris pribadi gubernur Ceuta. Keharuman namanya kian semerbak sehingga ia diangkat oleh Abu Ya’qub Yusuf Al-Manshur khalifah daulah Muwahhidin menjadi dokter pribadi merangkap sebagai wazirnya. Dan beliau juga meminta kepada Ibnu Thufail untuk menguraikan buku-bukunya Aristoteles.Untuk memenuhi permintaan tersebut, Ibnu Thuffail menghadapkan Abd Walid Ibn Rusyd kepada khalifah dan mencalonkan untuk pekerjaan tersebut. Al-Walid diterima dengan baik oleh khalifah dan menunaikan pekerjaanya dengan baik .
Selain dikenal sebagai dokter dan filsuf besar, Ibnu Tufail menguasai ilmu hukum dan ilmu pendidikan. Ibnu Tufail pun dicatat dalam sejarah peradaban Islam sebagai seorang penulis, novelis, dan ahli agama.Ibnu Thufail sebenarnya memmpunyai banyak karya, baik dalam bidang filsafat maupun yang lain(fisika dan sastra).Dari sejumlah karyanya yang dinisbatkan kepadanya, diantaranya adalah Risalah fi Asrar al-hikmah al-Masyriqiyah (Hayy ibn Yaqzhan)Rasa’il fi an-Nafs, Biqa’ al-Maskunah wa Al-Ghair al-Maskunah.Selain itu, dia juga memiliki beberapa buku tentang kedokteran, serta risalah yang berisi sekumpulan surat-menyurat yang ia lakukan dengan ibn Rusyddalam berbagai persoalan filsafat.Ibn Rusyd menyatakan bahwa ibn Thufail mempunyai teori-teori yang cemerlang dalam lmu falak.Akan tetapi, semua karya beliau tidak ada yang tersisa, kecuali risalah Hayy ibn Yaqzhan.
Ibnu Tufail juga termasyhur sebagai seorang politikus ulung. Kariernya di bidang politik dan pemerintahan juga terbilang sangat baik. Ia sempat ditahbiskan sebagai pejabat di pengadilan Spanyol Islam. Tak cuma itu, Ibnu Tufail pun dipercaya Sultan Dinasti Muwahiddun menduduki jabatan menteri hingga menjadi gubernur untuk wilayah Sabtah dan Tonjah di Magribi dan sekretaris penguasa Granada.
Ketika usia beliau sudah lanjut, ia meminta berhenti dari jabatanya yang diajukan untuk menduduki jabatan tersebut.Meskipun ibnu Thuffail sudah bebas dari jabatanya, namun penghargaan Abu Ya’kub masih seperti dulu, malahan setelah khalifah Abu Ya’kub meninggal dan diganti dengan oleh putranya Abu Yusuf Al-Mansyur penghargaan itu masih tetap diterima oleh ibnu Thuffail.Ketika ibnu Tuffail meninggal dunia di Maroko pada tahun 581 H(1185 M)Abu Yusuf pun ikut menghadiri pemakaman jenazahnya.

2. Filsafatnya
Inti dari pemikiran ibn tuffail termuat dalm karyanya Hayy Ibn Yaqzhan. Antara akal dan wahyu tidaklah memiliki kontradiksi yang begitu besar. Bahkan keduanya dapat memiliki satu visi dan tujuan yang sama tentang kebenaran. Dan juga akan memiliki titik keindahan bila keduanya dapat digabungkan. Bahwa jalan yang ditunjukkan oleh agama dapat diperoleh dengan intelektualitas manusia, yang cenderung berhasrat untuk terus bertanya dan mencoba menjawab apa yang ada, dan juga oleh wahyu yang dapat dijadikan petunjuk tetap menuju satu kebenaran. Keduanya sama-sama dapat menuju kebenaran, demikian pesan yang ingin disampaikan Ibn Thufail pada kita dalam karya monumentalnya, Hayy Ibn Yaqdzan.
Dalam karyanya ini, Ibn Thufail seperti merasa jengah dengan pertikaian dua proyektor besar dalam proses pencarian kebenaran, filsafat dan wahyu. Pertikaian yang diledakkan oleh al-Ghazali dengan Tahafut al-Falasifah-nya, menentang Ibn Sina dan al-Farabi dengan ajaran Aristotelian mereka. Pertikaian yang pada dasarnya ada pada ketidaksetujuan al-Ghazali yang fokus pada tiga ajaran para filososf, terutama Ibn Sina dan al-Farabi, tentang keabadian alam, penolakan bangkitnya jasmani setelah mati, dan pengetahuan Tuhan yang universal. Ketiga hal yang benar-benar dianggap oleh al-Ghazali sebagai penyalahgunaan rasio untuk menyelewengkan agama.
Pertikaian ini coba didamaikan Ibn Thufail dengan mengatakan bahwa antara keduanya tidaklah jauh berbeda dalam memandang kebenaran yang sama, eksternal dan internal. Pemahaman agama melalui wahyu dan pemahaman agama melalui penalaran, melihat kebenaran dari sisi yang berbeda dengan hakikat yang sama.

Ajaran Filsafat ibnu tuffail
1.Dunia
Apakah dunia itu kekal, atau diciptakan dari ketiadaan tas kehendak-Nya?Inilah salah satu masalah penting yang palig menetang dalam filosofis muslim Ibnu Tufail sejalan dengan kemahiran dialektisnya menghadapi masalah itu dengan tepat. Dia tidak menganut slah satu doktrin saingannya, dan dia juga tidak berusaha mendamaikan mereka. Dilain pihak dia mengecam dengan pedas pengikut Aristoteles dan sikap-sikap teologis. Kekekalan dunia melibatkan konsep eksistensi tak terbatas. Eksistensi semacam itu tidak dapat lepas dari kejadian-kejadian yang diciptakan dan tidak mungkin ada sebelum kejadian-kejadian yang tercipta itu pasti tercipta secara lambat laun. Menurut Al-Ghazali, ia mengemukakan bahwa gagasan mengenai kemaujudan sebelum ketidak maujudan tidak dapat difahami tanpa anggapan bahwa waktu itu telah ada sebelum dunia ada, akan tetapi waktu itu sendiri merupakan suatu kejadian tak terpisahkan dari dunia, dan karena itu kemaujudannya mendahului kemaujudan dunia. Segala yang tercipta pasti membutuhkan pencipta. Tidak ada sesuatupun ada sebelum Dia, dan segala sesuatu pasti ada dan akan terjadi atas kehendak-Nya. Antinomi (kontradiksi antar prinsip) ini dengan jelas menerangkan bahwa kemampuan nalar (Kant) ada batasnya dan argumentasinya akan mendatangkan kontradiksi yang membingungkan.

2. Tuhan
Penciptaan dunia yang lambat laun itu mensyaratkan adaya satu pecipta yang mesti bersifat immaterial, sebab materi yang merupakn suatu kejadian dunia diciptakan oleh satu pencipta. Dunia tak bisa maujud dengan sendirinya, pasti dan harus ada penciptanya.Jika Tuhan bersifat material, maka akan membawa suatu kemunduran yang tiada akhir. Oleh karena itu, dunia ini pasti mempunyai pencipta yang tidak berwujud benda, dan karena Dia bersifat immaterial, maka kita tidak bisa mengenali-Nya lewat indera kita atau lewat imajinasi. Sebab imajinasi hanya menggambarkan hal-hal yang dapat ditangkap oleh indera.


3. Kosmologi Cahaya.
Manifestasi kemajemukan dari yang sau dijelaskan dalam gaya Neo-Platonik yang monoton, sebagai tahap berurutan pemancaran yang berasal dari cahaya Tuhan.Proses tersebut pada prinsipnya sama dengan refleksi terus menerus cahaya matahari pada cermin. Cahaya matahari yang jatuh pada cermin menunjukkan kemajemukan. Semua itu merupakan pantulan cahaya matahari, bukan matahari itu sendiri, juga bukan cermin itu sendiri. Hal yang sama berlaku juga pada cahaya pertama (Tuhan) beserta perwujudannya di dalam kosmos.



4. Epistimologi
Jiwa dalam tahap awalnya bukanlah suatu tabula rasa atau papan tulis kosong. Melainkan Imaji Tuhan telah tersirat didalamnya sejak awal, tetapi untu menjadikannya tampak nyata, kita perlu memulai denga pikiran yang jernih tanpa prasangka.
Pengalaman merupakan suatu proses mengenal lingkungan lewat indera. Organ-ogan indra ini berfungsi berkat jiwa yang ada dalam hati. Pengamatan memberi kita pengetahuan mengenai benda-benda yang induktif, dengan alat pembanding dan pembedanya dikelompokkan menjadi mineral, tanaman, dan hewan. Setiap kelompok benda ini memperlihatkan fungsi-fungsi tertentu yang membuat kita menerima bentuk-bentuk atau jiwa-jiwa sebagai penyebab fungsi-fungsi tertentu berbagai benda.Ibnu Tufail akhirnya berpaling kepada disiplin jiwa yang membawa kepada ekstase, sumber tertinggi pengetahuan. Dalam taraf ini, kebenaran tidak lagi dicapai lewat proses deduksi atau induksi, melainkan secara langsung dan intuitif lewat cahaya yang ada didalamnya. Jiwa menjadi sadar diri dan mengalami apa yang tak pernah dilihat mata, didengar telinga, atau dirasa olehhati.

5. Etika
Bukan kebahagiaan duniawi, melainkan penyatuan sepenuhnya dengan Tuhanlah yang merupakan “summum bukmun” (kebaikan tertinggi) etika. Perwujudannya setelah pengembangan akal induktif dan deduktif.Menurut de Boer manusia merupakan perpaduan suatu tubuh jiwa hewani dan esensi non-bendawi, dengan demikian menggambarkan binatang, angkasa, dan Tuhan. Karena itulah pendakian jiwanya terletak pada pemuasan ketiga aspek tersebut. Pertama, ia terikat untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya serta menjaganya dari cuaca buruk dan binatang buas. Kedua, menuntut darinya kebersihan pakaian dan tubuh, kebaikan terhadap objek-objek hidup dan tak hidup. Ketiga, yaitu pengetahuan, kekuasaan, kebijaksanaan, kebebasan dari keinginanjasmaniyah.

6. Filsafat dan Agama
Filsafat dilain pihak merupkan bagian dari kebenaran esoteris. Ia berupaya menafsirkan lambang-lambang agama tentang konsep-konsep imaji murni yang berpuncak pada suatu keadaan yang didalamnya terdapat esensi ketuhanan dan pengetahuannya menjadi satu. Persepsi rasa, nalar, dan intuisi merupakan dasar-dasar pengetahuan filsafat. Para nabi pun memiliki intuisi, sumber utama pengetahuan mereka adalah wahyu Tuhan. Pengetahuan nabi didapat secara langsung dan pribadi, sedangkan pengetahuan para pengikutnya didapat dari wasiat.


KESIMPULAN
Bahwasannya ibn bajjah adlah seorang dari pedagang emas, yang kemudian sebagai penyair yang keliling ke berbgaai belahan dunia. Ia menciptakan sebuah karya dalam filsafat, dengan itu dia disebut filusuf. Karya diantaranya adalah: Risalah al-Wida’,  Risalah Tadbir al-Mutawahhid, Risalah al-Ittisal al-‘Aql Bi al-Insan, Kitab an-Nafs.
Dan ibn tuffail adalah dari kluarga arab qais, kmdian stelah beljar dari ibn bajjah dia menjadi ilmuwan besar juga sebutan untuk Ibn Tuffail adalah dokte dan filsuh besar. Adapula ajaran-ajaran tentang filsafatnya, yaitu: dunia, tuhan, kosmologi cahaya, epistimologi, etika, filsafat dan agama.
PENUTUP
          Demikian ringkasan dari saya, apabila ada kesalahan dalam menulis, saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Mungkin juga bisa bermanfaat bagi teman-teman semuanya.
Wassalamu’alaiakum wr.wb.