Rabu, 10 Juli 2013
Biografi dan Pokok-Pokok Pemikiran Ibn Bajjah dan Ibn Tuffail
BIOGRAFI DAN
POKOK-POKOK PEMIKIRAN IBNU BAJJAH DAN IBNU TUFFAIL
A. IBN BAJJAH
1. Biografi
Nama
lengkapnya adalah Abu Bakar ibn Yahya ibn al sha’ighal tujibi al andulsi al
samqusti ibn Bajjah. Ibn bajjah dilahirkan di Saragossa, andalus pada tahun 475
H (1082 M). Ia berasal dari keluarga at-tujib karena itu beliau dikenal sebagai
al-tujubi yang bekerja sebagai pedagang emas (Bajjah : Emas).
Selain
sebagai filusuf, ibn bajjah dikenal sebagai penyair, komponis, bahkan sewaktu
Saragossa berada di bawah kekuasaan abu baker ibn ibrahim al-shahrawi dari
daulah bani murabittun ibn bajjah dipercayakan sebagai Wazir . Pada 1118 M/512
H, Saragossa telah ditakluk oleh raja Alfonso yang berasal dari Aragon dan Ibnu
Bajjah berhijrah ke Seville, selatan Sepanyol. Di sana, beliau menjalankan
tugas sebagai seorang doktor dan banyak menulis tentang ilmu logik.
Kemudian
Ibnu Bajjah berpindah pula ke Granada, dan seterusnya ke Afrika Utara iaitu
pusat Dinasti Murabithun. Tetapi cara pemikiran dan falsafahnya yang asing di
kalangan masyarakat di situ menyebabkan beliau ditangkap apabila tiba di kota
Syatibah, Maghribi oleh Amir Abu Ishak Ibrahim Ibn Yusuf Ibn Tasifin yang
menuduhnya sebagai murtad dan pembawa bidaah. Oleh kerana Ibnu Rusyd pernah
menjadi muridnya, maka Ibnu Bajjah dilepaskan
Ekoran
kejadian tersebut, beliau meneruskan perjalanan ke Fez di Morocco. Di sana,
beliau mendapat penghormatan yang tinggi di kalangan orang al-Murabithun dan
diangkat menjadi menteri oleh Abu Bakar Yahya Ibnu Yusuf Ibnu Tasifin untuk
jangka waktu yang panjang.
Kedudukan
yang beliau peroleh telah menimbulkan rasa iri hati daripada pelbagai pihak.
Akhirnya pada bulan Ramadan 1138 M/533 H, menurut satu riwayat, beliau
meninggal dunia akibat diracuni oleh seorang doktor yang bernama Abu al-‘Ala
Ibnu Zuhri yang iri hati terhadap kecerdasan dan penguasaan ilmunya . Beliau
dimakamkan di samping makam Ibnu ‘Arabi di Fez.
2. Karyanya
Ibnu
Bajjah banyak menghasilkan karya dalam berbagai bidang. Karya asal Ibn Bajjah
ditulis dalam bahasa Arab dan diterjemahkan ke dalam bahasa Hebrew dan Latin.
Manuskrip asal dan terjemahannya tersimpan di perpustakaan Bodlein,
Perpustakaan Berlin dan Perpustakaan Escurial (Sepanyol).
Antara
karyanya yang terpenting ialah :
a. Risalah al-Wida’ yang menceritakan
tentang ketuhanan, kewujudan manusia, alam dan huraian mengenai bidang
perubatan. Buku tersebut dipercayai masih tersimpan di perpustakaan Bodlein.
b. Risalah Tadbir al-Mutawahhid pula
mengandungi pandangan beliau tentang bidang politik dan falsafah. Ia lebih
menekankan kehidupan individu dalam masyarakat yang disebut Mutawahhid. Risalah
Tadbir al-Mutawahhid ini diterjemahkan ke dalam bahasa Sepanyol setelah
wafatnya Ibnu Bajjah.
c. Risalah al-Ittisal al-‘Aql Bi al-Insan
mengandungi tentang perhubungan akal dengan manusia serta huraian mengenainya.
d. Kitab an-Nafs menerangkan persoalan yang
berkait tentang jiwa manusia dengan Tuhan dan pencapaian manusia yang tertinggi
daripada kewujudan manusia iaitu kebahagiaan. Persoalan ini banyak dipengaruhi
oleh gagasan pemikiran falsafah Yunani dan Ibnu Bajjah banyak membuat ulasan
terhadap karya dan hasil tulisan Aristotle, Galenos, al-Farabi dan al-Razi.
3. Filsafatnya
Adapu
beberapa filsafatnya yg di buat oleh Ibn Bajjah, yaitu:
a. Epistimologi
Sebagai tokoh
filsafat islam di dunia Barat, ibn bajjah tidak lepas dari pengaruh
saudara-saudaranya (filusuf islam di dunia timur) terutama pemikiran al farabi
dan ibn sina. Dalam bukunya yang terkenal Tdbir Al Mutawahhid, beliau
mengemukakan teori al ittishal, yaitu bahwa manusia mampu berhubungan dan
meleburkan diri dengan akal fa'al atas bantuan ilmudan pertumbuhan kekuatan
insaniah .
Berkaitan dengan
teori ittishal tersebut, ibn bajjah juga juga mengajukan satu bentuk
Epistimologiyang berbeda dengan corak yang dikemukakan oleh Al Ghazali di Dunia
Islam Timur. Kalau Al Ghazali berpendapat bahwa Ilham adalah sumber pengetahuan
yang lebih penting dan lebih dipercaya, maka ibn bajjah mengkritik pendapat
tersebut, dan menetapkan bahwa sesungguhnya perseorangan mampu pada puncak
pengetahuan dan melebur Akal Fa'al, bila ia telahbersih dari kerendahan dan
keburukan masyarakat. Oleh karenanya seseorang sebisa mungkin harus dapat
mengasingkan pemikiran, dan jiwa masyarakat yang didasari atas pemenuhan hawa
nafsu.
b.
Metafisika
Adapun pendapat
ibn bajjah mengenai Metafisika, boleh dikatakan hampir sama dengan Al Farabi.
Menurut ibn bajjah bahwa segala yang maujud terbagi menjadi Dua :
Bergerak dan
yang Tidak Bergerak. Yang bergerak itu adalah Materi yang sifatnya terbatas.
Dan gerakan yang terbatas tidak mungkin dari zatnya sendiri. Tatapi sebab
gerakan berasal dari kekuatan yang tidak terbatas (wujud) yaitu Akal. Akal
memberi gerak kepada jisim.
c.
Moral
Tujuan Manusia
hidup di dunia ini, kata ibn bajjah, adalah untuk memperoleh kebahagiaan. Untuk
itu, diperlukan usaha yang bersumber pada kemauan bebas dan pertimbangan Akal
dan jauh dari nafsu Hewani. Lebih jauh ibn bajjah mengelompokkan perbuatan
manusia kepada Perbuatan Hewani dan Perbuatan Manusiawi. Watak sejati manusia
pada hakikatnya bersifat Intelektual, yang merupakan karakteristik semua bentuk
spiritual. Dan hanya “manusia spiritual” inilah yang benar-benar dapat menenyal
kebahagiaan. Ibn bajjah menyatakan bahwa kemajuan Intelektual bukanlah
semata-mata atas usaha manusia, tetapi disempurnakan oleh Tuhan dengan
memasukkan cahaya ke dalam Hati. Pemikiran ibn bajjah tersebut, menurut Al
Hanafi nampaknya telah mempengaruhi Immanuel Kant, meskipun Knt telah menambah
pemikiran-pemikiran baru yang menyebabkan ia lebih maju dari ibn bajjah .
d.
Politik
Dari pengertian
Mutawahhid, kadang-kadang orang mengira bahwa ibn bajjah menginginkan seseorang
menjauhkan diri dari masyarakat. Tetapi sebenarnya ibn bajjah bermaksud bahwa
seorang mutawahhid harus senantiasa berhubungan dengan masyarakat. Maksudnya,
hendaklah seseorang mampu menguasai diri dan sanggup mengendalikan hawa nafsu,
tidak terseret ke dalam arus perbuatan rendah masyarakat. Dengan kata lain, ia
harus berpusat pada dirinya dan merasa selalu bahwa dirinya menjadi contoh
ikutan orang, bukan malah tenggelam di dalam arus masyarakat . Tetapi jika
masyarakat tidak baik maka seseorang harus menyepi dan menyendiri . Ibn bajjah
menyadari bahwa warga memiliki sikap dan bertindak mulia jumlahnya tidaklah
banyak. Menurut ibn bajjah orang yang menpunyai sikap mulia ciri-cirinya ialah
:
1. Selalu
menjaga kesehatan. Untuk itu mereka memerlukan sedikit pengetahuan tentang
kesehatan agar dapat merawat diri.
2. Sederhana
dalam memenuhi kebutuhan hidup yang menyangkut sandang, pangan, dan tempat
tinggal, karena kebutuhan yang demikian bukan tujuan utama bagi kehidupan.
3. Bergaul
dengan orang yang berilmudan menjauhi orang-orang yang mementingkan kehidupan
duniawi.
B. IBNU THUFFAIL
1. Biografinya
Ibnu
Thuffail mempunai nama asli yang bernama Abu Bakr Muhammad bin Abdul Malik bin
Muhammad bin Muhammad bin Tufail, Beliau lahir pada dekade pertama abad ke-6
H/ke-12 M di Guadix, propinsi Granada, ia termasuk keluarga dari suku Arab
Qais. Setelah beranjak dewasa, Ibnu Tufail berguru kepada Ibnu Bajjah
(1100-1138 M), seorang ilmuwan besar yang memiliki banyak keahlian. Berkat
bimbingan sang guru yang multitalenta itu, Ibnu Tufail pun menjelma menjadi
seorang ilmuwan besar.Pada mulanya ia adalah seorang yang ahli dalam bidang
kedokteran, dan menjadi terkenal dibidangnya itu.
Keahlianya
dalam bidangnya telah dipraktekkanya di Granada.Kemudian ketenarnya sebagai
dokter itu membawa namanya lebih dikenal di dalam pemerintahan, sehinggan dia
diambil oleh gubernur Granada menjadi sekretarisnya.Pada tahun 549 H ia
dipindahkan menjadi sekretaris pribadi gubernur Ceuta. Keharuman namanya kian
semerbak sehingga ia diangkat oleh Abu Ya’qub Yusuf Al-Manshur khalifah daulah
Muwahhidin menjadi dokter pribadi merangkap sebagai wazirnya. Dan beliau juga
meminta kepada Ibnu Thufail untuk menguraikan buku-bukunya Aristoteles.Untuk
memenuhi permintaan tersebut, Ibnu Thuffail menghadapkan Abd Walid Ibn Rusyd
kepada khalifah dan mencalonkan untuk pekerjaan tersebut. Al-Walid diterima
dengan baik oleh khalifah dan menunaikan pekerjaanya dengan baik .
Selain
dikenal sebagai dokter dan filsuf besar, Ibnu Tufail menguasai ilmu hukum dan
ilmu pendidikan. Ibnu Tufail pun dicatat dalam sejarah peradaban Islam sebagai
seorang penulis, novelis, dan ahli agama.Ibnu Thufail sebenarnya memmpunyai
banyak karya, baik dalam bidang filsafat maupun yang lain(fisika dan
sastra).Dari sejumlah karyanya yang dinisbatkan kepadanya, diantaranya adalah
Risalah fi Asrar al-hikmah al-Masyriqiyah (Hayy ibn Yaqzhan)Rasa’il fi an-Nafs,
Biqa’ al-Maskunah wa Al-Ghair al-Maskunah.Selain itu, dia juga memiliki
beberapa buku tentang kedokteran, serta risalah yang berisi sekumpulan
surat-menyurat yang ia lakukan dengan ibn Rusyddalam berbagai persoalan
filsafat.Ibn Rusyd menyatakan bahwa ibn Thufail mempunyai teori-teori yang
cemerlang dalam lmu falak.Akan tetapi, semua karya beliau tidak ada yang
tersisa, kecuali risalah Hayy ibn Yaqzhan.
Ibnu
Tufail juga termasyhur sebagai seorang politikus ulung. Kariernya di bidang
politik dan pemerintahan juga terbilang sangat baik. Ia sempat ditahbiskan
sebagai pejabat di pengadilan Spanyol Islam. Tak cuma itu, Ibnu Tufail pun
dipercaya Sultan Dinasti Muwahiddun menduduki jabatan menteri hingga menjadi
gubernur untuk wilayah Sabtah dan Tonjah di Magribi dan sekretaris penguasa
Granada.
Ketika
usia beliau sudah lanjut, ia meminta berhenti dari jabatanya yang diajukan
untuk menduduki jabatan tersebut.Meskipun ibnu Thuffail sudah bebas dari
jabatanya, namun penghargaan Abu Ya’kub masih seperti dulu, malahan setelah
khalifah Abu Ya’kub meninggal dan diganti dengan oleh putranya Abu Yusuf
Al-Mansyur penghargaan itu masih tetap diterima oleh ibnu Thuffail.Ketika ibnu
Tuffail meninggal dunia di Maroko pada tahun 581 H(1185 M)Abu Yusuf pun ikut
menghadiri pemakaman jenazahnya.
2. Filsafatnya
Inti
dari pemikiran ibn tuffail termuat dalm karyanya Hayy Ibn Yaqzhan. Antara akal
dan wahyu tidaklah memiliki kontradiksi yang begitu besar. Bahkan keduanya
dapat memiliki satu visi dan tujuan yang sama tentang kebenaran. Dan juga akan
memiliki titik keindahan bila keduanya dapat digabungkan. Bahwa jalan yang
ditunjukkan oleh agama dapat diperoleh dengan intelektualitas manusia, yang
cenderung berhasrat untuk terus bertanya dan mencoba menjawab apa yang ada, dan
juga oleh wahyu yang dapat dijadikan petunjuk tetap menuju satu kebenaran.
Keduanya sama-sama dapat menuju kebenaran, demikian pesan yang ingin
disampaikan Ibn Thufail pada kita dalam karya monumentalnya, Hayy Ibn Yaqdzan.
Dalam
karyanya ini, Ibn Thufail seperti merasa jengah dengan pertikaian dua proyektor
besar dalam proses pencarian kebenaran, filsafat dan wahyu. Pertikaian yang
diledakkan oleh al-Ghazali dengan Tahafut al-Falasifah-nya, menentang Ibn Sina
dan al-Farabi dengan ajaran Aristotelian mereka. Pertikaian yang pada dasarnya
ada pada ketidaksetujuan al-Ghazali yang fokus pada tiga ajaran para filososf,
terutama Ibn Sina dan al-Farabi, tentang keabadian alam, penolakan bangkitnya
jasmani setelah mati, dan pengetahuan Tuhan yang universal. Ketiga hal yang
benar-benar dianggap oleh al-Ghazali sebagai penyalahgunaan rasio untuk
menyelewengkan agama.
Pertikaian
ini coba didamaikan Ibn Thufail dengan mengatakan bahwa antara keduanya
tidaklah jauh berbeda dalam memandang kebenaran yang sama, eksternal dan
internal. Pemahaman agama melalui wahyu dan pemahaman agama melalui penalaran,
melihat kebenaran dari sisi yang berbeda dengan hakikat yang sama.
Ajaran Filsafat ibnu tuffail
1.Dunia
Apakah dunia itu kekal, atau diciptakan
dari ketiadaan tas kehendak-Nya?Inilah salah satu masalah penting yang palig
menetang dalam filosofis muslim Ibnu Tufail sejalan dengan kemahiran
dialektisnya menghadapi masalah itu dengan tepat. Dia tidak menganut slah satu
doktrin saingannya, dan dia juga tidak berusaha mendamaikan mereka. Dilain
pihak dia mengecam dengan pedas pengikut Aristoteles dan sikap-sikap teologis.
Kekekalan dunia melibatkan konsep eksistensi tak terbatas. Eksistensi semacam
itu tidak dapat lepas dari kejadian-kejadian yang diciptakan dan tidak mungkin
ada sebelum kejadian-kejadian yang tercipta itu pasti tercipta secara lambat
laun. Menurut Al-Ghazali, ia mengemukakan bahwa gagasan mengenai kemaujudan
sebelum ketidak maujudan tidak dapat difahami tanpa anggapan bahwa waktu itu
telah ada sebelum dunia ada, akan tetapi waktu itu sendiri merupakan suatu
kejadian tak terpisahkan dari dunia, dan karena itu kemaujudannya mendahului
kemaujudan dunia. Segala yang tercipta pasti membutuhkan pencipta. Tidak ada
sesuatupun ada sebelum Dia, dan segala sesuatu pasti ada dan akan terjadi atas
kehendak-Nya. Antinomi (kontradiksi antar prinsip) ini dengan jelas menerangkan
bahwa kemampuan nalar (Kant) ada batasnya dan argumentasinya akan mendatangkan
kontradiksi yang membingungkan.
2.
Tuhan
Penciptaan dunia yang lambat laun itu
mensyaratkan adaya satu pecipta yang mesti bersifat immaterial, sebab materi
yang merupakn suatu kejadian dunia diciptakan oleh satu pencipta. Dunia tak
bisa maujud dengan sendirinya, pasti dan harus ada penciptanya.Jika Tuhan bersifat
material, maka akan membawa suatu kemunduran yang tiada akhir. Oleh karena itu,
dunia ini pasti mempunyai pencipta yang tidak berwujud benda, dan karena Dia
bersifat immaterial, maka kita tidak bisa mengenali-Nya lewat indera kita atau
lewat imajinasi. Sebab imajinasi hanya menggambarkan hal-hal yang dapat
ditangkap oleh indera.
3.
Kosmologi Cahaya.
Manifestasi kemajemukan dari yang sau
dijelaskan dalam gaya Neo-Platonik yang monoton, sebagai tahap berurutan
pemancaran yang berasal dari cahaya Tuhan.Proses tersebut pada prinsipnya sama
dengan refleksi terus menerus cahaya matahari pada cermin. Cahaya matahari yang
jatuh pada cermin menunjukkan kemajemukan. Semua itu merupakan pantulan cahaya
matahari, bukan matahari itu sendiri, juga bukan cermin itu sendiri. Hal yang
sama berlaku juga pada cahaya pertama (Tuhan) beserta perwujudannya di dalam
kosmos.
4.
Epistimologi
Jiwa dalam tahap awalnya bukanlah suatu
tabula rasa atau papan tulis kosong. Melainkan Imaji Tuhan telah tersirat
didalamnya sejak awal, tetapi untu menjadikannya tampak nyata, kita perlu
memulai denga pikiran yang jernih tanpa prasangka.
Pengalaman merupakan suatu proses
mengenal lingkungan lewat indera. Organ-ogan indra ini berfungsi berkat jiwa
yang ada dalam hati. Pengamatan memberi kita pengetahuan mengenai benda-benda
yang induktif, dengan alat pembanding dan pembedanya dikelompokkan menjadi
mineral, tanaman, dan hewan. Setiap kelompok benda ini memperlihatkan
fungsi-fungsi tertentu yang membuat kita menerima bentuk-bentuk atau jiwa-jiwa
sebagai penyebab fungsi-fungsi tertentu berbagai benda.Ibnu Tufail akhirnya
berpaling kepada disiplin jiwa yang membawa kepada ekstase, sumber tertinggi
pengetahuan. Dalam taraf ini, kebenaran tidak lagi dicapai lewat proses deduksi
atau induksi, melainkan secara langsung dan intuitif lewat cahaya yang ada
didalamnya. Jiwa menjadi sadar diri dan mengalami apa yang tak pernah dilihat
mata, didengar telinga, atau dirasa olehhati.
5.
Etika
Bukan kebahagiaan duniawi, melainkan
penyatuan sepenuhnya dengan Tuhanlah yang merupakan “summum bukmun” (kebaikan
tertinggi) etika. Perwujudannya setelah pengembangan akal induktif dan
deduktif.Menurut de Boer manusia merupakan perpaduan suatu tubuh jiwa hewani
dan esensi non-bendawi, dengan demikian menggambarkan binatang, angkasa, dan
Tuhan. Karena itulah pendakian jiwanya terletak pada pemuasan ketiga aspek
tersebut. Pertama, ia terikat untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya serta
menjaganya dari cuaca buruk dan binatang buas. Kedua, menuntut darinya
kebersihan pakaian dan tubuh, kebaikan terhadap objek-objek hidup dan tak
hidup. Ketiga, yaitu pengetahuan, kekuasaan, kebijaksanaan, kebebasan dari
keinginanjasmaniyah.
6.
Filsafat dan Agama
Filsafat dilain pihak merupkan bagian
dari kebenaran esoteris. Ia berupaya menafsirkan lambang-lambang agama tentang
konsep-konsep imaji murni yang berpuncak pada suatu keadaan yang didalamnya
terdapat esensi ketuhanan dan pengetahuannya menjadi satu. Persepsi rasa,
nalar, dan intuisi merupakan dasar-dasar pengetahuan filsafat. Para nabi pun
memiliki intuisi, sumber utama pengetahuan mereka adalah wahyu Tuhan.
Pengetahuan nabi didapat secara langsung dan pribadi, sedangkan pengetahuan
para pengikutnya didapat dari wasiat.
KESIMPULAN
Bahwasannya
ibn bajjah adlah seorang dari pedagang emas, yang kemudian sebagai penyair yang
keliling ke berbgaai belahan dunia. Ia menciptakan sebuah karya dalam filsafat,
dengan itu dia disebut filusuf. Karya diantaranya adalah: Risalah al-Wida’, Risalah Tadbir
al-Mutawahhid, Risalah al-Ittisal al-‘Aql Bi al-Insan, Kitab an-Nafs.
Dan ibn tuffail adalah dari kluarga arab qais, kmdian stelah
beljar dari ibn bajjah dia menjadi ilmuwan besar juga sebutan untuk Ibn Tuffail
adalah dokte dan filsuh besar. Adapula ajaran-ajaran tentang filsafatnya,
yaitu: dunia, tuhan, kosmologi cahaya, epistimologi, etika, filsafat dan agama.
PENUTUP
Demikian ringkasan dari saya, apabila
ada kesalahan dalam menulis, saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Mungkin
juga bisa bermanfaat bagi teman-teman semuanya.
Wassalamu’alaiakum wr.wb.
Langganan:
Komentar (Atom)