Kamis, 26 September 2013

pengertian dan macam macam drama


            Dalam karya seni yang berbasis tulisan, istilah dramaturgi dikenal secara umum. Pengertian sederhananya, dramaturgi adalah alur emosi dalam sebuah cerita. Ada yang mengistilahkan dengan naik-turunnya plot, atau naik-turunnya alur cerita, atau sesuai dengan kata dasarnya “drama – dramatik” dapat diartikan dramaturgi adalah naik turunnya sensasi dramatik dalam sebuah cerita.
          Dramaturgi adalah ajaran tentang masalah hukum, dan konvensi/persetujuan drama. Kata drama berasal dari bahasa Yunani yaitu dramoi yang berarti berbuat, berlaku, beraksi, bertindak dan sebagainya. Drama yang dapat diartikan sebagai perbuatan, tindakan. Ada yang menganggap drama sebagai lakon yang menyedihkan, mengerikan, sehingga dapat diartikan sebagai sandiwara tragedi. Adapula arti drama yaitu suatu aksi atau perbuatan (bahasa yunani). Sedangkan dramatik adalah jenis karangan yang dipertunjukkan dalan suatu tingkah laku, mimik dan perbuatan.
            Adapula tahapan-tahapan yang harus dilakukan untuk mempelajari dramaturgi yang disebut formula dramaturgi. Tahapannya sebagai berikut:
1.      Mengkhayalkan: disini untuk pertama kalinya manusia atau pengarang mengkhayalkan kisah: ada inspirasi-inspirasi, ide-ide.
2.      Menuliskan: pengarang menyusun kisah yang sama untuk kedua kalinya, pangarang menulis kisah.
3.      Memainkan: pelaku-pelaku memainkan kisah yang sama untuk ketiga kalinya (action). Disini aktor dan aktris yang bertindak dalam stage tertentu.
4.      Menyaksikan: penonton menyaksikan kisah yang sama untuk keempat kalinya.

·           Dalam arti luas, drama dapat diartikan sebagai berikut:
1.      Drama adalah kualitas komunikasi, situasi, aksi.
2.      Menurut Moulton, drama adalah: hidup yang dilukiskan dengan gerak (life presented action). Jika buku Roman menggerakkan fantasi kita, maka dalam drama kita meliat kehidupan manusia diekspresikan secara langsung di muka kita sendiri.
3.      Menurut Brander Mathews: konflik dari sifat manusiamerupakan sumber pokok drama.
4.      Menurut Ferdinand Brunetierre: drama haruslah melahirkan kehendak manusia dengan aksi.
5.      Menurut Balthazar Verhagen: drama adalah kesenian melukiskan sifat dan sikap manusia dengan gerak.
6.      Drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan aksi dihadapan penonton.

·         Drama menurut masanya dapat dibedakan dalam dua jenis yaitu drama baru dan drama lama.
1.      Drama Baru  / Drama Modern
Drama baru adalah drama yang memiliki tujuan untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat yang umumnya bertema kehidupan manusia sehari-hari.
2.      Drama Lama / Drama Klasik
Drama lama adalah drama khayalan yang umumnya menceritakan tentang kesaktian, kehidupan istana atau kerajaan, kehidupan dewa-dewi, kejadian luar biasa, dan lai sebagainya.

·         Macam-macam drama berdasarkan isi kandungan cerita:
1.      Drama komedi
Drama komedi adalah drama yang lucu dan menggelitik penuh keceriaan.
2.      Drama Tragedi
Drama tragedi adalah drama yang ceritanya sedih penuh kemalangan.
3.      Drama Tragedi Komedi
Drama tragedy komedi adalah drama yang ada sedih dan ada lucunya.
4.      Opera
Opera adalah drama yang mengandung music dan nyanyian.
5.      Lelucon / Dagelan
Lelucon adalah drama yang lakonnya selalu bertingkah pola jenaka merangsang gelak tawa penonton.
6.      Operet / Operette
Operet adalah opera yang ceritanya lebih pendek.
7.      Pantomim
Pantomim adalah drama yang ditampilkan dalam bentuk gerakan tubuh atau bahasa isyarat tanpa pembicaraan.

8.      Tablau
Tablau adalah drama yang mirip pantomim yang diikuti oleh gerak-gerik anggota tubuh dan mimik wajah pelakunya.
9.      Passie
Passie adalah drama yang mengandung unsur agama/religius.
10.  Wayang
Wayang adalah drama yang pemain dramanya adalah boneka wayang. Dan lain sebagainya.
11.  Parodi
Parodi adalah karya sastra atau seni yang dengan sengaja menirukan gaya, kata penulis, atau pencipta laindengan maksud mencari efek kejenakaan.
12.  Drama Musikal
Drama musikal adalah satu bentuk ekspresi kesenian yang dikolaborasikan antara music, laku, gerak, dan tari, yang menggambarkansuatu cerita yang dikemas dengan tata koreografi dan music yang menarik sehingga terbentuklah sebuah drama musik atau kadang dikenal dengan “musical play”. Faktor emosional dari drama-humor, cinta, amarah-dikomunikasikan lewat kata-kata, music, gerakan, dan aspek teknis dari hiburan yang digabungkan secara keseluruhan.
13.  Sandiwara
Sandiwara adalah pertunjukan lakon atau cerita yang dimainkan oleh orang).
14.  Monolog
Monolog adalah pembicaraan yang dilakukan dengan diri sendiri.
15.  Opera Sabun
                  Opera Sabun (Soap Opera) adalah sebuah episode fiksi yang sering ditayangkan sebagai sandiwara radio, poster, atau siaran televisiyang selalu ada lanjutannya (to be continued).

Sejarah Dramaturgi



Keteateran adalah nama lain dari dramaturgi. Dramaturgi ialah yang dapat kita artikan sebagai drama dlm pentas, tapi sebenarnya bukan itu saja. Dramaturgi adalah ajaran tentang masalah hukum konvensi drama. Kata drama berasal dari yunani draomay yang berarti berbuat, berlaku, bertindak, bereaksi, dan sebagainya.

Pada tahun 1945, seorang yang bernama Kenneth Duva Burke memperkenalkan yang namanya dramatisme. Seorang literature amerika dan filosof itu memperkenalkan dramatisme sebagai metode untuk memahami fungsi sosial dari bahasa dan drama sebagai pentas simbolik kata dan kehidupan sosial. Tujuannya memberikan tindakan logis untuk memahami motif tindakan manusia, atau kenapa manusia melakukan apa yang mereka lakukan. Adapun menurut Moulton, drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak (life presented action). Jika buku roman menggerakan fantasi kita, maka dalam drama kita melihat kehidupan manusia diekspresikan secara langsung di muka kita sendiri.

            Dramaturgi istilah teater yang dipopulerkan oleh Aristoteles, pada tahun 350 SM. Aristoteles seorang filosof yunani yang menciptakan poetics, hasil pemikirannya yang sampai sekarang masih dianggap sebagai buku acuan dalam dunia pentas. Dalam poetics, aristoteles menjabarkan penelitiannya tentang penampilan drama-drama berakhir tragis/tragedi ataupun kisah-kisah komedi. Untuk menghasilkan Poetics Aristoteles meneliti hampir seluruh karya penulis Yunani pada masanya. Kisah tragis merupakan obyek penelitian utamanya dan dalam  Poetics juga Aristoteles menyanjung kisah Oedipus Rex, sebagai kisah drama yang paling dapat diperhitungkan.  Meskipun Aristoteles mengatakan bahwa drama merupakan bagian dari puisi, ia bekerja secara keseluruhan dalam menganalisa drama. Bukan hanya dari naskah saja, tapi juga menganalisa hubungan antara karakter dan akting, dialog, plot dan cerita. Dia memberikan contoh-contoh plot yang baik dan meneliti reaksi drama terhadap penonton. . Nilai-nilai yang dikemukakan oleh Aristoteles dalam maha karyanya ini kemudian dikenal dengan “aristotelian drama” atau drama ala aristoteles, dimana deus ex machina adalah suatu kelemahan dan dimana sebuah akting harus tersusun secara efisien.  Adapun kunci drama, yaitu anagnorisis, dan katharsis. Dan sampai sekarang ini Aristotelian drama terlihat aplikasinya pada tayangan-tayangan tv, buku-buku panduan perfilman yang bergantung pada pemikiran yang dikemukakan oleh aristoteles.

             Aristoteles dapat mengungkapkan dramaturgi dalam artian seni. Dan Goffman mendalami dramaturgi dari segi sosiologi. Seperti yang kita ketahui, Goffman memperkenalkan dramaturgi pertama kali dalam kajian sosial psikologis dan sosiologi melalui bukunya “The Presentation Of Self in Everyday Life”. Bku tersebut menggali segala macam interaksi yang kita lakukan dalam pertunjukan kehidupan kita sehari-hari yang menampilkan diri kita sendiri dengan cara yang sama dengan cara seorang aktor menampilkan karakter orang lain dalam sebuah pertunjukan drama. Bila Aristoteles mengacu kepada teater, maka Goffman mengacu pada pertunjukan sosiologi.

            Tujuan dari presentasi dari diri Goffman ini adalah penerimaan penonton akan manipulasi. Bila seorang aktor berhasil, maka penonton akan melihat aktor sesuai sudut yang memang ingin diperlihatkan oleh aktor tersebut. Aktor akan semakin mudah untuk membawa penonton untuk mencapai tujuan dari pertunjukan tersebut. Ini dapat dikatakan sebagai bentuk lain dari komunikasi. Kenapa komunikasi? Karena komunikasi sebenarnya adalah alat untuk mencapai tujuan.  Bila dalam komunikasi konvensional manusia berbicara tentang bagaimana memaksimalkan indera verbal dan non-verbal untuk mencapai tujuan akhir komunikasi, agar orang lain mengikuti kemauan kita. Maka dalam dramaturgis, yang diperhitungkan adalah konsep menyeluruh bagaimana kita menghayati peran sehingga dapat memberikan feedback sesuai yang kita mau. Perlu diingat, dramatugis mempelajari konteks dari perilaku manusia dalam mencapai tujuannya dan bukan untuk mempelajari hasil dari perilakunya tersebut. Dramaturgi memahami bahwa dalam interaksi antar manusia ada “kesepakatan” perilaku yang disetujui yang dapat mengantarkan kepada tujuan akhir dari maksud interaksi sosial tersebut. Bermain peran merupakan salah satu alat yang dapat mengacu kepada tercapainya kesepakatan tersebut. Bukti nyata bahwa terjadi permainan peran dalam kehidupan manusia dapat dilihat pada masyarakat kita sendiri.

             Teori dramaturgi menjelaskan bahwa identitas manusia adalah tidak stabil dan merupakan setiap identitas tersebut merupakan bagian kejiwaan psikologi yang mandiri. Identitas manusia bisa saja berubah-ubah tergantung dari interaksi dengan orang lain. Disinilah dramaturgis masuk, bagaimana kita menguasai interaksi tersebut. Dalam dramaturgis, interaksi sosial dimaknai sama dengan pertunjukan teater. Manusia adalah aktor yang berusaha untuk menggabungkan karakteristik personal dan tujuan kepada orang lain melalui “pertunjukan dramanya sendiri”. Dalam mencapai tujuannya tersebut, menurut konsep dramaturgis, manusia akan mengembangkan perilaku-perilaku yang mendukung perannya tersebut.  Selayaknya pertunjukan drama, seorang aktor drama kehidupan juga harus mempersiapkan kelengkapan pertunjukan. Kelengkapan ini antara lain memperhitungkan setting, kostum, penggunakan kata (dialog) dan tindakan non verbal lain, hal ini tentunya bertujuan untuk meninggalkan kesan yang baik pada lawan interaksi dan memuluskan jalan mencapai tujuan. Oleh Goffman, tindakan diatas disebut dalam istilah  “impression management”. Goffman juga melihat bahwa ada perbedaan akting yang besar saat aktor berada di atas panggung (“front stage”) dan di belakang panggung (“back stage”) drama kehidupan.  Kondisi akting di front stage adalah adanya penonton (yang melihat kita) dan kita sedang berada dalam bagian pertunjukan. Saat itu kita berusaha untuk memainkan peran kita sebaik-baiknya agar penonton memahami tujuan dari perilaku kita. Perilaku kita dibatasi oleh oleh konsep-konsep drama yang bertujuan untuk membuat drama yang berhasil (lihat unsur-unsur tersebut pada impression management diatas).  Sedangkan back stage adalah keadaan dimana kita berada di belakang panggung, dengan kondisi bahwa tidak ada penonton. Sehingga kita dapat berperilaku bebas tanpa mempedulikan plot perilaku bagaimana yang harus kita bawakan.
          
Dengan konsep dramaturgis dan permainan peran yang dilakukan oleh manusia, terciptalah suasana-suasana dan kondisi interaksi yang kemudian memberikan makna tersendiri. Munculnya pemaknaan ini sangat tergantung pada latar belakang sosial masyarakat itu sendiri. Terbentuklah kemudian masyarakat yang mampu beradaptasi dengan berbagai suasana dan corak kehidupan. Masyarakat yang tinggal dalam komunitas heterogen perkotaan, menciptakan panggung-panggung sendiri yang membuatnya bisa tampil sebagai komunitas yang bisa bertahan hidup dengan keheterogenannya. Begitu juga dengan masyarakat homogen pedesaan, menciptakan panggung-panggung sendiri melalui interaksinya, yang terkadang justru membentuk proteksi sendiri dengan komunitas lainnya. Apa yang dilakukan masyarakat melalui konsep permainan peran adalah realitas yang terjadi secara alamiah dan berkembang sesuai perubahan yang berlangsung dalam diri mereka. Permainan peran ini akan berubah-rubah sesuai kondisi dan waktu berlangsungnya. Banyak pula faktor yang berpengaruh dalam permainan peran ini, terutama aspek sosial psikologis yang melingkupinya.